Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta memutuskan untuk menghentikan pengiriman dosen ke Malaysia dengan alasan-alasan tertentu.Bisa jadi langkah itu akan bergulir menjadi bola salju dimana universitas-universitas lain akan mengikuti jejak UAD. Lagipula, konon Direktorat Pendidikan Tinggi menilai universitas di Malaysia tidak lebih baik daripada universitas di tanah air.
Di tahun 1970-an, Indonesia banyak mengirim dosen ke Malaysia berasaskan pada hubungan yang baru pulih pasca kampanye Konfrontasi. Universitas-universitas seperti Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Pertanian Malaysia pasti mengingat jasa dosen-dosen ITB yang memelopori fakultas-fakultas ilmu pasti dan keteknikan. Foto-foto mereka sampai sekarang masih terpajang di gedung-gedung fakultas sebagai lambang keabadian jasa mereka.
Pada masa itu nama Indonesia sangat harum di Malaysia. Indonesia dipandang sebagai bangsa intelektual, tak lain dan tak bukan karena kehadiran dosen-dosen terpandang dari berbagai universitas terbaik di tanah air. Tak pelak Indonesia merasa sedikit sombong. Banyak dosen Malaysia yang pernah kuliah di Indonesia pada era 70-an bercerita kerap menerima ejekan dari sesama mahasiswa Indonesia.
Hidup ibarat roda. Yang di atas kini bertukar ke bawah.
Ekonomi Malaysia melaju pesat terutama sejak dipimpin oleh Dr. Mahathir Mohamad. Sejak era 80-an, pemerintah Malaysia membuka keran masuknya pembantu rumah tangga, termasuk dari Indonesia, sebagai konsekuensi dari membaiknya ekonomi dan semakin terbukanya peluang pekerjaan. Maka sejak itulah kita dikenal sebagai negara pengekspor pembantu rumah dan pekerja kasar.
Masuknya pekerja berpendidikan rendah ke Malaysia, selain berkontribusi kepada pembangunan fisik Malaysia, tetapi juga menciptakan berbagai masalah sosial. Kaum pekerja ini kemudian memberi imej tentang Indonesia kepada warga Malaysia. Imej yang samasekali berbeda dengan imej yang diciptakan oleh dosen-dosen terbaik Indonesia pada tahun 70-an.
Jika di tahun 70-an Indonesia dikenal sebagai negara intelektual, sejak tahun 80-an imej Indonesia di mata rakyat Malaysia adalah negara yang berantakan, orangnya susah diatur, dan miskin. Dan imej ini bertahan sampai sekarang.
Imej yang buruk tentang Indonesia ini sedikit-sebanyak mempengaruhi sikap sebagian rakyat Malaysia terhadap Indonesia. Pelecehan, perendahan harga diri, dan penghinaan yang dirasakan Indonesia tak lebih merupakan manifestasi imej yang diciptakan Indonesia sendiri sejak tahun 80-an.
Jika Indonesia ingin kembali dihormati seperti tahun 70-an, hentikan pengiriman pekerja kasar dan intensifkan pengiriman tenaga intelektual. Bukan sebaliknya.









