Menuju Indonesia yang Lebih Baik Bagian Dua: Riset atau mati
Beberapa bulan lalu saya diundang oleh Universitas Airlangga (Unair) di Surabaya untuk memberi kuliah tamu mengenai bidang penelitian yang terbilang anyar di Indonesia: protein bioinformatics.
Seumur hidup belum pernah mengunjungi Surabaya, tentu saja undangan itu saya terima dengan senang hati.
Selain memberi kuliah, saya berkesempatan melihat-lihat sarana riset di Universitas Airlangga. Sebelum tiba di Surabaya, saya sempat berasumsi sarana riset di Unair tentu kalah jauh dibandung UI atau ITB misalnya.
Ternyata saya keliru. Pembangunan rumah sakit penelitian bertingkat 8 di Kampus C Mulyorejo yang terpisah dari RSUD Dr. Soetomo membuat saya geleng-geleng kepala. Universitas sekaliber UI pun tidak punya rumah sakit penelitian sebesar itu. Juga satu-satunya pusat penelitian flu burung (avian flu) di Indonesia yang ada di kompleks Tropical Disease Research (TDR) jelas membuat saya kagum.
Ternyata Unair Surabaya tidak se"terbelakang" seperti yang saya pikir sebelumnya. Justru, di beberapa sisi malah lebih baik dibanding universitas-universitas di Jakarta. UI, watch your back!
* * *
Universitas mempunyai tiga tugas pokok: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kebanyakan universitas di Indonesia sudah cukup baik menjalankan fungsi pendidikan dan pengabdian masyarakat, tapi masih tertatih-tatih dalam menjalankan fungsi penelitian.
Cara yang paling sederhana untuk menilai kualitas dan kuantitas penelitian di Indonesia adalah dengan melacak publikasi yang dihasilkan oleh peneliti Indonesia di basis data seperti Scopus atau Entrez Pubmed. Walaupun masih diselimuti oleh kontroversi, jumlah publikasi ilmiah masih dianggap cara yang sahih untuk mengukur produktivitas penelitian suatu institusi atau perorangan.
Publikasi hasil penelitian oleh ilmuwan Indonesia masih sangat buruk dibanding publikasi yang dikeluarkan oleh sejawat mereka di negara-negara tetangga. Untuk tahun 2004 misalnya, dengan jumlah universitas dan peneliti lebih banyak, ilmuwan Indonesia hanya mampu merilis publikasi 1/3 dari yang dirilis oleh saintis Malaysia.
Jika kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah bisa kita jadikan patokan, kondisi dunia riset di Indonesia bisa dikatakan sakit parah.
* * *
Riset adalah syarat mutlak untuk menemukan hal-hal baru. Tanpa riset, kita hanya mampu berkutat dengan barang-barang uzur dan paling banter pun hanya menjadi bangsa yang pandai mengkonsumsi produk ciptaan bangsa lain. Tanpa riset, kita hanya bisa menjual barang mentah dan buruk tanpa mampu mengolahnya menjadi komoditi bernilai tinggi.
Dalam konstelasi politik kontemporer saat ini pun, bangsa-bangsa yang memegang supremasi biasanya memiliki keunggulan teknologi, bukan hanya memiliki banyak uang. Arab Saudi dan Brunei misalnya, banjir uang di mana-mana tetapi kedua negara itu samasekali tidak menggenggam supremasi dunia.
Setelah era B. J. Habibie, Indonesia belum memiliki seorang pun Menteri Negara Riset dan Teknologi yang berkualifikasi layak dan mempunyai pemikiran strategis untuk menjadikan riset sebagai tulang punggung kemajuan negara.
* * *
Bagaimana keseriusan komitmen pemerintah saat ini terhadap perkembangan dunia riset? Dengan melihat dua parameter sederhana di bawah ini, saya serahkan kepada para pembaca untuk menilainya:
1. Pemerintah dengan sengaja menurunkan jumlah anggaran riset sebanyak 39 persen untuk tahun 2010.
2. Dengan mengesampingkan fakta bahwa Indonesia memiliki banyak peneliti profesional yang sudah kenyang makan asam garam riset, bahkan memiliki reputasi internasional, pemerintahan SBY menunjuk seseorang yang miskin pengalaman riset sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi.
Saya kira sebagai seorang pemegang gelar doktor dan dikelilingi para staf ahli yang juga bertitel doktor, SBY seharusnya bisa mengerti urgensi riset untuk kemajuan dan harga diri negara. Tetapi mengapa Amerika Serikat dan Malaysia, yang tidak pernah dipimpin oleh kepala negara bergelar doktor, justru lebih memahami pentingnya riset?








