Wednesday, September 02, 2009

Stop kirim dosen, tapi kirim pembantu?

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta memutuskan untuk menghentikan pengiriman dosen ke Malaysia dengan alasan-alasan tertentu.

Bisa jadi langkah itu akan bergulir menjadi bola salju dimana universitas-universitas lain akan mengikuti jejak UAD. Lagipula, konon Direktorat Pendidikan Tinggi menilai universitas di Malaysia tidak lebih baik daripada universitas di tanah air.

Di tahun 1970-an, Indonesia banyak mengirim dosen ke Malaysia berasaskan pada hubungan yang baru pulih pasca kampanye Konfrontasi. Universitas-universitas seperti Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Pertanian Malaysia pasti mengingat jasa dosen-dosen ITB yang memelopori fakultas-fakultas ilmu pasti dan keteknikan. Foto-foto mereka sampai sekarang masih terpajang di gedung-gedung fakultas sebagai lambang keabadian jasa mereka.

Pada masa itu nama Indonesia sangat harum di Malaysia. Indonesia dipandang sebagai bangsa intelektual, tak lain dan tak bukan karena kehadiran dosen-dosen terpandang dari berbagai universitas terbaik di tanah air. Tak pelak Indonesia merasa sedikit sombong. Banyak dosen Malaysia yang pernah kuliah di Indonesia pada era 70-an bercerita kerap menerima ejekan dari sesama mahasiswa Indonesia.

Hidup ibarat roda. Yang di atas kini bertukar ke bawah.

Ekonomi Malaysia melaju pesat terutama sejak dipimpin oleh Dr. Mahathir Mohamad. Sejak era 80-an, pemerintah Malaysia membuka keran masuknya pembantu rumah tangga, termasuk dari Indonesia, sebagai konsekuensi dari membaiknya ekonomi dan semakin terbukanya peluang pekerjaan. Maka sejak itulah kita dikenal sebagai negara pengekspor pembantu rumah dan pekerja kasar.

Masuknya pekerja berpendidikan rendah ke Malaysia, selain berkontribusi kepada pembangunan fisik Malaysia, tetapi juga menciptakan berbagai masalah sosial. Kaum pekerja ini kemudian memberi imej tentang Indonesia kepada warga Malaysia. Imej yang samasekali berbeda dengan imej yang diciptakan oleh dosen-dosen terbaik Indonesia pada tahun 70-an.

Jika di tahun 70-an Indonesia dikenal sebagai negara intelektual, sejak tahun 80-an imej Indonesia di mata rakyat Malaysia adalah negara yang berantakan, orangnya susah diatur, dan miskin. Dan imej ini bertahan sampai sekarang.

Imej yang buruk tentang Indonesia ini sedikit-sebanyak mempengaruhi sikap sebagian rakyat Malaysia terhadap Indonesia. Pelecehan, perendahan harga diri, dan penghinaan yang dirasakan Indonesia tak lebih merupakan manifestasi imej yang diciptakan Indonesia sendiri sejak tahun 80-an.

Jika Indonesia ingin kembali dihormati seperti tahun 70-an, hentikan pengiriman pekerja kasar dan intensifkan pengiriman tenaga intelektual. Bukan sebaliknya.

Saturday, August 29, 2009

Prioritas, sekali lagi prioritas!

Apakah Indonesia sudah kehilangan kewarasan untuk memilih mana yang harus didahulukan dan mana yang boleh diabaikan?

Di satu sisi:

1. Pilkada Jawa Timur menghabiskan dana Rp 1 trilyun.

2. Penyelamatan Bank Century, bank kecil dengan 35 ribu nasabah, memakan duit Rp 6,7 trilyun.

Di sisi lain:

3. Pemerintah hanya sanggup membayar Rp 200 ribu untuk harga sebuah naskah klasik Melayu. Pemerintah tak punya uang? Bohong. Lihat point nomer 1 dan 2 di atas. Dan ketika orang luar sanggup membayar mahal untuk membeli naskah-naskah itu, kita marah-marah.

4. Untuk mendaftarkan produk budaya, pemerintah mengenakan sejumlah biaya. Kenapa tidak dibuat gratis? Pemerintah tidak punya uang? Bohong. Lihat point nomer 1 dan 2 di atas. Oooh, mungkin bos dan nasabah Bank Century lebih penting daripada Tari Pendet, angklung, Reog Ponorogo, batik, songket, dan wayang kulit.

5. Kapal-kapal perang kita tidak bisa jalan lantaran punya banyak utang dengan Pertamina. Pemerintah tidak punya uang? Bohong. Lihat point nomer 1 dan 2 di atas. Kapal-kapal kayak gini mau dipakai mengganyang Malaysia? Saudara-saudara lebih baik jangan mimpi.

6. Doktor-doktor kita "dicuri" negara tetangga lantaran pemerintah tidak sanggup menggaji mereka dengan layak. Pemerintah tidak punya uang? Bohong. Lihat point nomer 1 dan 2 di atas. Tidak mau menggaji doktor-doktor, mereka lantas pindah ke luar negara, lalu kita marah-marah. Aneh.

Prioritas. Sekali lagi, prioritas. Di mana pun, dari level keluarga sampai level negara, cara membelanjakan uang harus didasarkan pada prioritas.

Dan prioritas selalu didasarkan pada filosofi. Katakanlah ada dua keluarga sama-sama bergaji Rp 5 juta sebulan. Keluarga pertama menganut filosofi penghematan, maka uang itu setengahnya akan ditabung. Keluarga kedua menganut filosofi hura-hura, maka uang itu akan habis tak bersisa menjelang tanggal tua.

Perbedaan filosofi. Inilah sebab kenapa Indonesia dan Singapura, yang pada tahun 1950-an mempunyai pendapatan perkapita setara, kini ibarat tuan dan babu.

Sunday, June 14, 2009

Pidato bukan sekedar omdo

Professor Barack Hussein Obama.

Tidak salah. Barack Obama, Presiden Amerika Serikat ke-44 pernah menjadi dosen (professor) hukum konstitusi di University of Chicago Law School. Dia dikenal sebagai dosen yang gemar memprovokasi mahasiswa dengan ide-ide baru dan segar. Materi kuliahnya menarik. Soal-soal ujiannya menantang.

Sebagai seorang profesor, Barack Obama terlatih untuk berdebat secara sehat. Bakat oratornya terasah baik selama di Chicago maupun di Harvard tempat ia memperoleh gelar Juris Doctor (J.D.). Tak heran jika ucapan-ucapannya bernas, terstruktur baik, dan mengundang kekaguman publik.

Tugas seorang presiden bukan cuma menyusun anggaran belanja negara dan rencana pembangunan. Tugas seorang presiden adalah membangkitkan semangat rakyatnya ketika sedang dilanda krisis, meniupkan optimisme ketika keyakinan rakyat jatuh, dan mengajak partisipasi rakyat ketika negara memerlukan upaya padu untuk bangkit.

Pidato yang baik bukan cuma sekedar omongan di mulut. Sejarah dunia diwarnai dengan orator-orator ulung yang punya daya pesona dan gerak massa luar biasa. Adolf Hitler menggerakkan pembantaian Yahudi di Eropa melalui pidato-pidatonya yang membakar. Di masa Perang Dunia II, ketika semangat mudah goyah diamuk badai peperangan besar, orator ulung seperti Winston Churchill dan Franklin Roosevelt muncul menyuntik optimisme dan semangat demi mencapai kemenangan pasukan Sekutu.

Pidato bukan sekedar omdo (omong doang). Pidato adalah pembakar semangat. Pidato adalah penyentak jiwa ketika otak dibuat ragu-ragu oleh pertimbangan tetek-bengek. Tak heran jika orang sepiawai Obama pun masih memerlukan tim tangguh untuk menyusun pidato beliau. Karena semaju apapun perjalanan waktu, manusia tetaplah manusia yang punya hati, yang memerlukan suntikan motivasi dan kobaran semangat.

Indonesia, negeri yang masih tertatih-tatih berjalan akibat dilanda tempias krisis besar 10 tahun lalu, memerlukan upaya terpadu seluruh rakyat untuk bangkit. Upaya raksasa memerlukan suntikan semangat raksasa. Dan sayangnya, pemimpin kita tidak punya kemampuan menyuntikkan semangat.

Bersama Kita Bisa? Siapa sih yang sampai terbakar semangatnya gara-gara slogan tersebut? Bagaimana mampu menyalakan api semangat rakyat jika si pemilik slogan sendiri bersikap ragu-ragu dan tak punya kemampuan berpidato secara bernas?