Monday, August 16, 2010

Kapan Kita Bisa Merdeka dari Nyamuk?

Mengusir penjajah Belanda ternyata lebih mudah ketimbang mengusir nyamuk. Jika kita akur dengan pendapat terbaru bahwa Belanda baru berhasil menguasai kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia pada awal tahun 1900-an, berarti hanya perlu lima puluh tahun untuk mengusir Belanda pulang ke negaranya.

Dalam hal ini, nyamuk lebih keras kepala ketimbang kepalanya orang Belanda.

Perjuangan mengusir nyamuk di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1898 oleh bangsa Belanda melalui Malaria Service in Indonesia yang diketuai oleh N. H. Swellengrebel sebagai direktur pertamanya. Tugas utamanya adalah memusnahkan nyamuk Anopheles pembawa malaria. Tetapi sudah lebih 100 tahun berlalu, malaria masih menjadi momok di Indonesia, di mana untuk tahun 2009 saja masih ada 1,1 juta kasus malaria di Indonesia.

Itu baru malaria. Belum lagi nyamuk Aedes yang membawa penyakit demam berdarah dengue. Penyakit ini lebih mematikan dibanding malaria dan belum ada obatnya (tidak seperti malaria yang bisa diobati dengan kina/quinone). Untuk tahun 2008 saja, terdapat 136.399 kasus demam berdarah dengan jumlah kematian sebanyak 1.170 jiwa yang kebanyakannya anak-anak.

Sebenarnya, bisakah nyamuk diberantas sampai punah? Kalau orang Belanda yang gede-gede itu saja bisa kita suruh balik kanan ke negaranya, maka kenapa nyamuk yang imut-imut tidak bisa kita berantas sampai punah? Pasti bisa dan sangat mungkin.

Memusnahkan makhluk hidup pengganggu sangat mungkin dilakukan dan pernah tercatat dalam sejarah. Variola major dan Variola minor, dua virus penyebab cacar (smallpox) berhasil dimusnahkan dari muka bumi berkat usaha gigih dunia internasional yang dikomandani oleh Profesor Donald A. Henderson. Secara resmi PBB menyatakan virus cacar lenyap dari muka bumi pada bulan Desember 1979. Inilah sebab mengapa generasi yang lahir sebelum era 1970-an ada yang memiliki muka bopeng berlubang bekas penyakit cacar, sesuatu yang tidak dimiliki oleh generasi yang lahir setelah tahun 1970-an.

Bagaimana dengan nyamuk? Mungkin dunia internasional perlu menggalang usaha yang berskala sama seperti ketika dulu memusnahkan virus cacar demi menghapuskan nyamuk dari muka bumi. Tetapi, adakah akibat negatif terhadap lingkungan jika spesies nyamuk berhasil dipunahkan?

Kabar baiknya: tidak ada efek samping samasekali. Dunia akan aman dan lebih baik tanpa kehadiran nyamuk.

Majalah ilmiah tersohor Nature edisi Juli 2010 menurunkan tulisan Ecology: A world without mosquitoes (Ekologi: Sebuah dunia tanpa nyamuk). Dalam artikel tersebut Janet Fang menulis bahwa jika nyamuk menghilang, maka hanya ada dua makhluk yang merindukannya: 1) virus dan bakteri yang selama ini menumpang nyamuk untuk menulari manusia, dan 2) burung di area Kutub Utara yang terbiasa memakan nyamuk Aedes impiger dan Aedes nigripes - dua spesies nyamuk asli wilayah kutub. Selain mereka, tidak ada seorangpun atau apapun yang akan merindukan nyamuk. Si burung, para ilmuwan meyakini, akan beralih ke sumber pangan lain.

Coba bayangkan: Anda tidur di malam hari, jendela terbuka, angin malam menghembus sepoi-sepoi, dan Anda tidur lelap sampai pagi tanpa gigitan nyamuk, juga tanpa bau obat nyamuk. Indah, bukan? Inilah salah satu kemerdekaan yang kita idam-idamkan.

Dirgahayu Indonesia. Semoga kita bisa segera merdeka dari serangan nyamuk.

(Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana)

Friday, May 07, 2010

Bank Syariah: Cerita dari Malaysia

Jika bank syariah di Indonesia identik dengan pegawai yang berjilbab, tidak demikian halnya dengan Malaysia.

Kok begitu? Memang agak aneh, tapi nyata.

Perkenalan saya dengan bank syariah diawali di salah satu kantor cabang HSBC Amanah di Malaysia. Sebagaimana sidang pembaca mungkin sudah maklum, HSBC yang merupakan grup perbankan terbesar di dunia menurut Forbes, rupanya kepincut dengan potensi perbankan syariah yang sedemikian dahsyat. Maka muncullah divisi syariah HSBC Amanah pada tahun 1998 yang kemudian terus menggurita sampai ke Timur Tengah, Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Masuk ke kantor yang didominasi ornamen merah, tidak ada seorangpun yang mengenakan jilbab. Ah, jangan-jangan saya ini di Thailand dan bukan di negerinya Siti Nurhaliza, batin saya.

"Good afternoon, Sir. May I help you?" sapa seorang berkulit kuning langsat dengan ramah.

Wah, lelaki ini tidak berjenggot. Seorang berketurunan Cina malah. Seratus persen yakin dia bukan Muslim.

Saya jelaskan bahwa saya sedang mencari produk asuransi. Dengan senyum tak lekang dari bibirnya, lelaki Cina non-Muslim itu dengan sangat fasih menjelaskan produk takaful dari HSBC Amanah. Lengkap dengan jargon-jargon syariah seperti tabarru, wakalah, dan mudharabah.

Geli juga melihat dia mengucapkan istilah-istilah itu dengan agak susah payah. Tetapi saya angkat topi atas usaha keras dia belajar mengucapkan istilah-istilah Arab yang mungkin seumur hidupnya belum pernah dia ucapkan. Salute!

Selesai dikuliahi soal takaful di HSBC Amanah, saya pun pergi ke bangunan yang jaraknya sepelemparan batu. Sebuah institusi keuangan terbesar di Kuwait yang membuka cabang di Malaysia. Masuk ke ruangan yang didominasi warna hijau itu (wah, ada harapan melihat teller berjilbab), saya langsung dilayani oleh seorang staf pria berjenggot yang bernama Mr. Rajkumar.

Semua staf wanita tidak ada yang berjilbab, dan saya duduk di depan seorang lelaki berketurunan India yang saya yakin dia bukan Muslim.

Saya membatin: betapa kuatnya posisi perbankan syariah di Malaysia, sehingga semua orang, tak peduli Muslim atau bukan, ingin bekerja dengan bank syariah. Pikiran saya melayang ke ratusan tahun lalu di era kegemilangan Islam Cordova, ketika para pemuda Kristen Spanyol berebut-rebut belajar bahasa Arab yang pada masa itu gengsinya setara dengan bahasa Inggris saat ini.

Di Malaysia saya melihat Islam yang rahmatan lil alamin, paling tidak dalam sistem bank syariahnya. Pegawai bank Muslim dan non-Muslim, berketurunan Melayu, India, atau Cina, semuanya yakin dengan keunggulan produk syariah yang mereka tawarkan. Jika tidak yakin dengan keunggulan sistem syariah, tidak mungkin mereka memilih bekerja di institusi perbankan Islam.

Di Malaysia, bank syariah sanggup menembus sekat-sekat agama dan ras. Tidak ada konsep "bank syariah hanya untuk Muslim". Bank syariah sanggup bersaing ketat dengan bank konvensional dengan menawarkan produk-produk yang tak kalah menariknya dengan yang ditawarkan oleh bank non-syariah.

Bagi non-Muslim, jika bank syariah sanggup menawarkan berbagai kelebihan dibanding bank konvensional, kenapa tidak menjadi nasabah bank syariah? Anda jangan terkejut, ketika HSBC mulai membuka layanan syariahnya, lebih dari separuh nasabahnya justru dari kalangan non-Muslim (ulasannya baca di sini).

Untuk nasabah bank yang memikirkan soal halal-haramnya riba, bank syariah menjadi pilihan yang mau tak mau wajib diambil. Tetapi bagi nasabah bank yang tidak menganut kepercayaan ketat mengenai bunga bank, mereka berpikiran praktis: kalau menabung harus mendapat keuntungan tinggi, kalau meminjam uang tidak dibebani dengan bunga yang selangit, dan jaringan ATM-nya ada dimana-mana.

Jika bank syariah sanggup memenuhi tuntutan pelanggan seperti itu (dan di Malaysia kenyataannya bisa), bank konvensional bersiap-siaplah untuk "berperang" dengan bank syariah!

Saya rasa (bisa jadi perasaan saya salah), bank syariah di Indonesia masih berorientasi hanya kepada nasabah Muslim. Mungkin sudah saatnya bank syariah di Indonesia lebih membuka diri kepada nasabah non-Muslim. Jargon-jargon berbahasa Arab yang susah diucapkan oleh lidah non-Muslim, seperti mudharabah, nisbah, musyarakah, murabahah, mungkin bisa dicari padannya dalam bahasa Indonesia. Bukan hanya yang non-Muslim, beberapa kalangan Muslim pun mungkin agak susah mengucapkan istilah-istilah tersebut.

Kalangan perbankan syariah di Indonesia harus belajar banyak dari Malaysia, yang sudah lama dinobatkan sebagai kiblatnya perbankan syariah di dunia. Bayangkan, dengan jumlah penduduk hanya 25 juta jiwa, itupun hanya 60%-nya Muslim, aset perbankan syariah di Malaysia mencapai 20% dari total aset perbankan secara keseluruhan. Di Indonesia, dengan 250 juta jiwa penduduknya dan lebih 80%-nya Muslim, mosok tidak sampai 3% dari jumlah aset keseluruhan?

Kembali ke Malaysia dan kejutan belum berakhir. Rupanya banyak yang tahu saya sedang mencari produk perbankan syariah. Satu lagi bank melemparkan tawaran kepada saya. Nama bank itu: Hong Leong Islamic Bank. Staf yang menghubungi saya bernama Jenny, berketurunan Cina.

Saya membatin: jangan-jangan sudah tidak ada lagi bank konvensional di Malaysia. Semua kolaps dihajar bank syariah!

Monday, September 28, 2009

Menuju Indonesia yang Lebih Baik (2)

Menuju Indonesia yang Lebih Baik
Bagian Dua: Riset atau mati


Beberapa bulan lalu saya diundang oleh Universitas Airlangga (Unair) di Surabaya untuk memberi kuliah tamu mengenai bidang penelitian yang terbilang anyar di Indonesia: protein bioinformatics.

Seumur hidup belum pernah mengunjungi Surabaya, tentu saja undangan itu saya terima dengan senang hati.

Selain memberi kuliah, saya berkesempatan melihat-lihat sarana riset di Universitas Airlangga. Sebelum tiba di Surabaya, saya sempat berasumsi sarana riset di Unair tentu kalah jauh dibandung UI atau ITB misalnya.

Ternyata saya keliru. Pembangunan rumah sakit penelitian bertingkat 8 di Kampus C Mulyorejo yang terpisah dari RSUD Dr. Soetomo membuat saya geleng-geleng kepala. Universitas sekaliber UI pun tidak punya rumah sakit penelitian sebesar itu. Juga satu-satunya pusat penelitian flu burung (avian flu) di Indonesia yang ada di kompleks Tropical Disease Research (TDR) jelas membuat saya kagum.

Ternyata Unair Surabaya tidak se"terbelakang" seperti yang saya pikir sebelumnya. Justru, di beberapa sisi malah lebih baik dibanding universitas-universitas di Jakarta. UI, watch your back!

* * *

Universitas mempunyai tiga tugas pokok: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kebanyakan universitas di Indonesia sudah cukup baik menjalankan fungsi pendidikan dan pengabdian masyarakat, tapi masih tertatih-tatih dalam menjalankan fungsi penelitian.

Cara yang paling sederhana untuk menilai kualitas dan kuantitas penelitian di Indonesia adalah dengan melacak publikasi yang dihasilkan oleh peneliti Indonesia di basis data seperti Scopus atau Entrez Pubmed. Walaupun masih diselimuti oleh kontroversi, jumlah publikasi ilmiah masih dianggap cara yang sahih untuk mengukur produktivitas penelitian suatu institusi atau perorangan.

Publikasi hasil penelitian oleh ilmuwan Indonesia masih sangat buruk dibanding publikasi yang dikeluarkan oleh sejawat mereka di negara-negara tetangga. Untuk tahun 2004 misalnya, dengan jumlah universitas dan peneliti lebih banyak, ilmuwan Indonesia hanya mampu merilis publikasi 1/3 dari yang dirilis oleh saintis Malaysia.

Jika kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah bisa kita jadikan patokan, kondisi dunia riset di Indonesia bisa dikatakan sakit parah.

* * *

Riset adalah syarat mutlak untuk menemukan hal-hal baru. Tanpa riset, kita hanya mampu berkutat dengan barang-barang uzur dan paling banter pun hanya menjadi bangsa yang pandai mengkonsumsi produk ciptaan bangsa lain. Tanpa riset, kita hanya bisa menjual barang mentah dan buruk tanpa mampu mengolahnya menjadi komoditi bernilai tinggi.

Dalam konstelasi politik kontemporer saat ini pun, bangsa-bangsa yang memegang supremasi biasanya memiliki keunggulan teknologi, bukan hanya memiliki banyak uang. Arab Saudi dan Brunei misalnya, banjir uang di mana-mana tetapi kedua negara itu samasekali tidak menggenggam supremasi dunia.

Setelah era B. J. Habibie, Indonesia belum memiliki seorang pun Menteri Negara Riset dan Teknologi yang berkualifikasi layak dan mempunyai pemikiran strategis untuk menjadikan riset sebagai tulang punggung kemajuan negara.

* * *

Bagaimana keseriusan komitmen pemerintah saat ini terhadap perkembangan dunia riset? Dengan melihat dua parameter sederhana di bawah ini, saya serahkan kepada para pembaca untuk menilainya:

1. Pemerintah dengan sengaja menurunkan jumlah anggaran riset sebanyak 39 persen untuk tahun 2010.

2. Dengan mengesampingkan fakta bahwa Indonesia memiliki banyak peneliti profesional yang sudah kenyang makan asam garam riset, bahkan memiliki reputasi internasional, pemerintahan SBY menunjuk seseorang yang miskin pengalaman riset sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Saya kira sebagai seorang pemegang gelar doktor dan dikelilingi para staf ahli yang juga bertitel doktor, SBY seharusnya bisa mengerti urgensi riset untuk kemajuan dan harga diri negara. Tetapi mengapa Amerika Serikat dan Malaysia, yang tidak pernah dipimpin oleh kepala negara bergelar doktor, justru lebih memahami pentingnya riset?