Monday, November 01, 2004

Kebun Binatang Senayan

Apa yang dilakukan para anggota DPR sejak dilantik sebulan lalu sampai sekarang?

Ketika pemerintahan baru di bawah Susilo Bambang Yudhoyono sudah mulai menggebrak dengan terapi kejut 100 harinya, para anggota Dewan yang terhormat [sic!] masih sibuk bertengkar sesama sendiri. Nama rakyat dan bangsa digadang-gadang di Senayan, sebagai topeng ambisi pribadi dan kelompok.

Padahal banyak pekerjaan yang sudah menunggu di depan mata. Lebaran sebentar lagi menjelang; arus pergerakan jutaan manusia dalam waktu bersamaan tentu bukan urusan ringan. Di saat yang sama ratusan ribu TKI kita terusir dari Malaysia; aparat negara harus bergerak cepat untuk mencegah terulangnya tragedi kemanusiaan dua tahun lalu di Nunukan. Penggiatan sektor riil yang menjadi fokus pemerintahan baru membutuhkan perbaikan infrastruktur nasional yang menurut data Bappenas hanya 50% yang utuh. Dan masih banyak lagi.

Pemerintah dan DPR menyikapi tantangan ini secara berbeda. Pemerintah bergerak cepat, energi diperas bahkan di hari libur sekalipun, tetapi anggota DPR yang wangi-wangi itu malah sibuk memeras energi untuk berkelahi. Dan yang hinanya, konflik ini coba dibawa-bawa keluar Dewan: Effendy Choirie menyebut bahwa secara de jure Panglima TNI sudah dioper ke pejabat yang baru (yang kemudian dibantah oleh Ketua DPR Agung Laksono), dan komisi-komisi yang baru terbentuk berebut-rebut mengundang menteri-menteri terkait untuk acara "rapat dengar pendapat" demi mencari legitimasi politis atas eksistensi masing-masing kubu yang bertikai.

Apa yang bisa dilakukan oleh rakyat yang telah berjasa mendudukkan mereka di Senayan? Memang mustahil menggelar Pemilu ulang untuk melengserkan mereka. Tetapi rakyat masih punya daya untuk memboikot mereka, para anggota Dewan yang tak tahu diri. Jangan sambut ketika mereka melakukan kunjungan dinas ke daerah, para staf KBRI tidak perlu menjemput dan melayani mereka ketika mengadakan kunjungan studi banding ke luar negeri, dan banyak lagi cara untuk menunjukkan betapa muaknya kita melihat tingkah-polah anggota Dewan tersebut.

Jika mereka tidak mau berhenti bertengkar, biarkan saja. Masih banyak pekerjaan bangsa yang bisa kita lakukan tanpa memperdulikan eksistensi Dewan yang terhormat. Biarkan mereka saling mencakar dan mengigit sesama sendiri. Amat pantas analogi Kwik Kian Gie yang menyebut mereka sebagai binatang politik, yang niscaya mati kehabisan darah di dalam kandangnya di Senayan sana.