Thursday, January 17, 2008

Kalau bayar harus pakai dollar...

Agustus 2005.

Beberapa lembar uang 100 US dollar berpindah dari tangan saya ke tangan tauke komputer untuk sebiji Acer Aspire 3608 yang saya pakai sampai hari ini.

Bukan di Amerika, tapi di Jakarta, tepatnya di pusat perbelanjaan Ratu Plaza.

Tahun 1999 ketika saya meninggalkan tanah air, tiket pesawat maskapai nasional Garuda Indonesia harus saya bayar dengan lembaran US dollar. Masih segar di ingatan saat itu betapa susahnya mencari lembaran duit US dollar yang masih mulus dan tidak ada cacat setitikpun. Bukan untuk membeli tiket KLM, British Airways, atau maskapai asing lainnya, tapi untuk membeli tiket Garuda Indonesia!

Enam tahun kemudian saya kembali ke tanah air. Masih tidak berubah: US dollar menjadi mata uang kedua Republik Indonesia.

Imbasan peristiwa di atas muncul kembali dalam ingatan saya setelah membaca berita di detikcom tentang tiket pesawat yang harus dibayar dengan US dollar.

Saya bukan pakar ekonomi. Tapi saya ingin bertanya: apakah kegairahan rakyat Indonesia bertransaksi dengan US dollar ini adalah salah satu sebab duit rupiah kita tidak pernah menguat secara signifikan setelah 10 tahun pasca reformasi?

Saya minta tolong para ahli ekonomi untuk menjawab pertanyaan saya di atas.

Penerbitan mata uang oleh suatu negara adalah simbol kedaulatan negara bersangkutan. Satu tahun setelah merdeka, Republik Indonesia menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) untuk menggantikan uang Jepang yang berlaku sebelumnya. Pidato Bung Hatta pada hari peresmian ORI melukiskan semangat pembebasan dari penjajahan Jepang yang disimbolkan dengan pencetakan uang baru.

“Besok tanggal 30 Oktober 1946 soeatoe hari jang mengandoeng sedjarah bagi tanah air kita.

Rakjat kita menghadapi penghidoepan baroe. Besok moelai beredar Oeang Repoeblik Indonesia sebagai satoe-satoenja alat pembajaran jang sah. Moelai poekoel 12 tengah malam nanti, oeang Djepang jang selama ini beredar sebagai oeang jang sah, tidak lakoe lagi. Beserta dengan oeang Javasche Bank. Dengan ini toetoeplah soeatoe masa dalam sedjarah keoeangan Repoeblik Indonesia. Masa jang penoeh dengan penderitaan dan kesoekaran bagi rakjat kita!

Sedjak moelai besok kita akan berbelandja dengan oeang kita sendiri, oeang yang dikeloearkan oleh repoeblik kita. Oeang Repoeblik keloear dengan membawa perobahan nasib rakjat, istimewa pegawai negeri, jang sekian lama menderita karena inflasi oeang Djepang. Roepiah Repoeblik jang harganja di Djawa lima poeloeh kali harga roepiah Djepang, di Soematra seratoes kali, menimboelkan sekaligoes tenaga pembeli kepada golongan rakjat jang bergadji tetap, jang selama ini hidoep dari pada menjoeal pakaian dan perabot roemah, dan joega kepada rakjat jang menghasilkan, jang penghargaan toekar barang penghasilannja djadi bertambah besar “

Seandainya Bung Hatta masih hidup, saya yakin beliau akan menangisi nasib rakyat Indonesia. Rakyat republik yang sudah tidak ada harganya, yang rela menggadaikan kemerdekaan dan harga dirinya dengan lembaran duit bergambar para pendiri negara Amerika!

0 comments: