Monday, January 21, 2008

Kalau salah bikin slogan...

Pencanangan Tahun Melawat Indonesia 2008 (Visit Indonesia Year 2008) sempat ternodai oleh kecelakaan kecil. Slogan "Celebrating 100 Years of Nation’s Awakening" dianggap keliru dari segi gramatikal. Yang tepat seharusnya "...of the/our Nation's Awakening" atau "...of National Awakening."

Kepala Bagian Humas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Turman Siagian, menuding Malaysia sebagai pihak yang sengaja membesar-besarkan kesalahan kecil itu. “Mungkin, itu bisa saja dipanas-panasi Malaysia. Kita bisa juga mempermasalahkan slogan Truly Asia (Malaysia), apakah mereka itu satu-satunya yang benar-benar Asia,’’ kata Turman, asal njeplak tentunya.

Sudah salah, tidak mau mengaku. Malah menuding orang lain. Biasalah birokrat Indonesia :-)

Karena slogan yang salah itu sudah terlanjur dipublikasikan, termasuk dicat di badan pesawat Garuda Indonesia, perbaikannya tentu memakan biaya yang tidak kecil.

Ngomong-ngomong soal biaya, saya juga tidak tahu berapa biaya yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk membuat slogan yang salah itu. Tentunya tidak gratis. Konon, total biaya promosi Tahun Melawat Indonesia 2008 adalah sekitar 15 juta dollar. Tidak tahu berapa ribu dollar yang dipakai untuk membayar honor si pembuat slogan.

Padahal, Komunitas Jalansutra sudah lama mengadakan kompetisi slogan untuk menyambut musim lawat-melawat tahun ini. Didorong oleh rasa cinta terhadap potensi pariwisata Indonesia yang masih terabaikan, 12 ribu anggota komunitas JS beradu kreativitas untuk menyusun slogan yang singkat, indah, dan betul dari segi gramatikal tentunya. Ada empat slogan yang akhirnya diumumkan sebagai pemenang pada 20 November 2007:

1. Travel Warning: Dangerously Beautiful! (karya Indah dan Iwan Esjepe)
2. Indonesia, The Smiling Archipelago (karya Delima Kiswanti)
3. This Is Life! (karya Fery Susetyo Ekopurnomo)
4. Indonesia: Beyond Expectation (karya Yesie Marisa)

Keempat slogan hasil olah kreativitas 12 ribu kawula JS ini tentunya bisa dikutip oleh pemerintah Indonesia tanpa mengeluarkan duit sepeserpun. Itupun kalau pemerintah mau.

Sttt, diam-diam Komunitas JS juga sedang menyusun direktori kekayaan wisata dan pusaka kuliner Indonesia. Hebatnya, ini semua dilakukan secara sukarela, tanpa budget jutaan dollar.

0 comments: