Akhir-akhir ini saya dan istri rajin mengamati hiruk-pikuknya babak pendahuluan pemilu presiden Amerika Serikat. Nikmat rasanya punya istri yang nyambung diajak diskusi dengan topik seberat politik Amerika :-)
Capek mengomentari Obama dan Clinton, topik diskusi beralih ke politik Indonesia. Tak kalah menarik dengan politik Amerika karena sepuluh tahun pasca reformasi, kondisi sosial-ekonomi Indonesia alih-alih membaik, malah memburuk. Apakah Indonesia kekurangan orang pintar?
Iseng-iseng melihat database doktor Indonesia, ada 5500 putra-putri Indonesia yang bergelar doktor. Kalau jumlah itu tidak termasuk yang tak terdaftar, katakanlah ada 10 ribu doktor yang tentunya punya otak encer.
Tapi kenapa nasib Indonesia tak bertambah baik selama satu dekade terakhir? Apa kerjanya orang pintar yang seabrek itu? Bukankah banyak pakar politik-ekonomi yang muncul tak henti-henti di televisi dan membuat rakyat jelata terkagum-kagum dengan kepandaian mereka bersilat lidah? Bukankah koran-koran baru bermunculan bak cendawan di musim hujan dengan menampilkan tulisan para pakar, baik pakar betulan maupun yang dadakan?
Istri saya yang kebetulan orang Malaysia, punya jawaban sederhana tapi tajam: "Orang Indonesia banyak cakap..." Banyak cakap maksudnya banyak omong doang alias om-do.
Betul juga dia. Di Malaysia tidak banyak pakar politik-ekonomi yang berjumpalitan di media massa. Koran dan tivi Malaysia cenderung membosankan dibandingkan Indonesia. Tapi diam-diam ekonominya melesat jauh meninggalkan Indonesia.
Linus Torvalds bilang: "Talk is cheap. Show me the code." (Ngomong itu gampang. Mana kongkritnya?).
Subscribe to:
Post Comments (Atom)








0 comments:
Post a Comment