Sunday, March 16, 2008

...tanggapan atas komentar di Superkoran...

Tulisan saya tentang prestasi partai DAP dalam pemilu Malaysia kemarin, yang juga dimuat di Superkoran Apakabar, mengundang reaksi negatif dari beberapa pembaca. Intinya, saya dianggap terlalu mengurusi negeri jiran, sementara persoalan dalam negeri Indonesia luput dari perhatian saya.

Saya ingin mengajak para pembaca untuk meneliti satu persatu postingan di blog ini untuk memperoleh fakta yang tepat sebelum melemparkan tuduhan negatif. Blog ini secara jelas menampilkan tulisan seputar peristiwa-peristiwa menarik di Malaysia, Indonesia, dan Amerika, tiga negara tempat saya berdomisili. Jadi bukan hanya soal Malaysia saja.

Lalu, apa yang membuat saya tertarik untuk menulis tentang Malaysia?

Lazimnya hubungan bertetangga, Indonesia dan Malaysia dibelit berbagai masalah. Mulai dari kisruh soal Ambalat, pekerja migran, ritual asap tahunan, sampai soal remeh-temeh seperti kasus lagu Rasa Sayange.

Dalam upaya penyelesaian masalah tersebut, rasanya kita semua sepakat untuk mengedepankan diplomasi. Perang adalah pilihan paling akhir. Saya bisa memaklumi jika ada yang beromantika dengan semangat "Ganyang Malaysia" dari era 60-an; saya anggap saja mereka ini seperti penggemar lagu lama yang sekedar ingin bernostalgia tanpa ada keinginan serius untuk mundur ke tahun 60-an.

Dalam strategi diplomasi, memahami pikiran pihak lain adalah mutlak demi meraih kemenangan. Ali Alatas, diplomat kawakan Indonesia, pernah bertamsil bahwa diplomasi itu seperti bermain kartu. Jatuhkan kartu satu persatu. Jangan buka semuanya karena itu hanya akan memberi kesempatan lawan untuk memahami strategi dan cara berpikir kita.

Dalam kaitannya dengan diplomasi kita dengan Malaysia, saya merasa bahwa kita tidak cukup berupaya untuk memahami pihak negara jiran. Tak heran kalau kita diskak mat dalam kasus Sipadan-Ligitan. Tak heran kalau negara-negara Selat Malaka (Singapura dan Malaysia) ramai-ramai menjadikan Indonesia sebagai musuh bersama dalam urusan kiriman asap. Tak heran kalau kita punya posisi tawar lemah dalam urusan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dianiaya hak-haknya di negara jiran.

Oleh sebab-sebab di atas, saya sengaja menulis banyak tentang Malaysia untuk memberi perspektif kepada para pembaca blog Indonesia tentang bagaimana rakyat Malaysia berpikir dan dinamika apa yang sedang terjadi di sana. Pemahaman yang utuh tentang Malaysia bukan saja membantu dalam urusan diplomasi, tetapi diharapkan dapat menjaga hubungan bertetangga antara dua negara berjiran yang akhir-akhir ini seperti dilanda demam.

Mengenai hasil pemilu Malaysia yang baru lalu, saya sengaja meng-highlight dalam dua tulisan di blog ini. Alasannya, karena saya pikir pemerintah kita bisa memanfatkan momen perubahan ini untuk kepentingan pekerja migran Indonesia di Malaysia, dan memperbaiki hubungan dua negara secara keseluruhan.

Saya ambil satu contoh. Salah satu partai komponen oposisi yang baru meraih prestasi dramatik dalam pemilu lalu adalah Parti Keadilan Rakyat (PKR) yang secara de facto dipimpin oleh Datuk Seri Anwar Ibrahim. Anwar sendiri dikenal memiliki pandangan positif terhadap Indonesia, khususnya terhadap gerakan reformasi 1998. Anwar-lah yang memperkenalkan jargon "reformasi" di Malaysia pada tahun 1999, yang mengakibatkan dirinya dijebloskan ke penjara atas tuduhan subversif.

Dalam beberapa kali kunjungannya ke Jakarta, Anwar secara jelas menyatakan ketidaksetujuannya atas penganiayaan hak-hak TKI di Malaysia. Sekarang adalah saat yang tepat bagi diplomat Indonesia untuk "menagih" janji Anwar. Beberapa komponen partai PKR sudah dilantik menjadi pejabat tinggi di negara-negara bagian yang diketahui memiliki komposisi TKI cukup besar, seperti Selangor. Saya pikir bukan hal sulit bagi Anwar dan PKR untuk memenuhi janjinya kepada rakyat Indonesia mengingat hubungan batin yang amat dekat antara Anwar dan negara kita. Lagipula, suasana batin pasca-pemilu yang tercipta saat ini adalah munculnya upaya partai-partai eks-oposisi untuk tampil berbeda dari grand old party pemerintahan lama. Suasana batin yang berbeda ini tentu bisa kita manfaatkan untuk merundingkan kebijakan baru yang lebih memihak Indonesia.

Itu baru satu contoh sederhana bagaimana kita merancang strategi diplomasi yang unik dan tepat berdasarkan pengamatan yang jeli tentang dinamika yang sedang berlangsung di Malaysia. Tentu ada banyak lagi contoh yang bisa dibuat; saya tak akan menguraikan satu persatu di sini.

Akhirul kalam, saya ingin mengingatkan kepada para pembaca blog ini, bahwa bangsa Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang self-absorbed, narsis, yang hanya peduli dengan dirinya tanpa mau tahu mengenai bangsa lain. Dalam dunia yang semakin inter-connected, pemahaman yang baik tentang dunia internasional adalah mutlak diperlukan.

1 comments:

david santos said...

Thanks for your posting and have a good week.



Le monde est à la guerre contre le pedophilia.