Setiap tahun, mahasiswa muslim di University of Kansas yang tergabung dalam Muslim Student Association menggelar acara "Fast-a-thon". Acara yang juga digelar di berbagai universitas di penjuru Amerika ini pada intinya mengajak umat non-muslim untuk ikut berpuasa selama 1 hari.
Tujuannya mulia: untuk memunculkan kepedulian terhadap kelaparan dan kemiskinan yang melanda dunia.
Bagi setiap orang yang berpuasa pada hari Fast-a-thon itu, pihak sponsor (biasanya pebisnis lokal) akan mendonasikan sejumlah uang yang setelah terkumpul kemudian disalurkan ke lembaga-lembaga amal. Semakin banyak yang berpuasa, semakin banyak pula uang yang akan dikumpulkan.
Pada hari-H Fast-a-thon, digelar puncak acara buka puasa bersama. Semua orang boleh datang, tak peduli apakah mereka muslim atau bukan. Tahun lalu, sekitar 400 orang, yang sebagian besar non-muslim, turut berpuasa dan hadir untuk berbuka puasa. Jumlah shoimin yang luar biasa ini berhasil mengumpulkan dana sekitar $2000 dari para pebisnis lokal, yang lalu disumbangkan ke panti tunawisma (homeless shelter) di Lawrence.
Tentu mustahil mengajak umat non-muslim untuk turut berpuasa kalau al-Qur'an dipakai sebagai landasan perintah. Di sinilah saya melihat cerdasnya pihak penganjur Fast-a-thon: solidaritas sosial, yang merupakan prinsip universal dan juga salah satu prinsip Islam, mampu memotivasi umat non-muslim untuk bergabung dalam tradisi tahunan umat Islam tersebut.
Di Amerika, negeri yang kononnya umat Islam ditekan dan didiskriminasi habis-habisan, justru saya temukan jalan dakwah yang luar biasa cerdas.
Di Indonesia, negeri dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, justru saya temukan jalan dakwah yang luar biasa dungu.
Mungkin jika umat Islam di Indonesia menjadi minoritas dan didiskriminasi, barulah bisa sedikit kreatif untuk menemukan jalan dakwah yang cerdas seperti saudara-saudari muslim di Amerika.
Ramadhan Mubarak!








1 comments:
Ironis ya Bim? Dan capek banget dengar yang beginian.
Post a Comment