Monday, October 20, 2008

Harga minyak dan harga barang

Perdana Menteri Abdullah Badawi mencipta sejarah dengan menaikkan harga minyak secara mendadak sebanyak RM 0.78 dan RM 1 pada 6 Juni lalu.

Kenaikan ini adalah yang terbesar yang pernah dibuat oleh seorang perdana menteri Malaysia. Bisa dicatat dalam Malaysian Book of Record.

Ketika harga minyak dunia menunjukkan trend menurun, PM Badawi memutuskan untuk juga menurunkan harga pasaran minyak dalam negeri.

Di saat yang sama, Badawi meminta para pebisnis dan peniaga lokal untuk menurunkan harga barang-barang yang turut melonjak akibat kenaikan mendadak harga minyak.

Kenyataannya harga minyak turun tetapi harga barang-barang tidak juga turun.

Ini tidak berarti seruan PM Badawi sudah dianggap angin lalu oleh para pelaku bisnis. Ini semata-mata masalah Economics 101.

Memang betul harga minyak adalah salah satu komponen penting dalam penentuan harga barang. Mesin-mesin untuk produksi barang memerlukan minyak. Transportasi barang juga memerlukan minyak. Jika harga minyak naik, bisa dipastikan harga barang juga akan naik.

Tetapi jangan lupa bahwa harga barang juga ditentukan oleh pihak pesaing (competitor). Katakanlah Pepsi dan Coca-Cola menetapkan harga 2 dollar untuk kemasan kaleng. Harga ini tidak akan berubah sampai ada salah satu pihak yang mulai menurunkan harga.

Misalnya Pepsi menurunkan harganya menjadi 1.8 dollar, dipastikan Coca-Cola akan banting harga menjadi 1.7 dollar. Lalu Pepsi pula akan menurunkan harga lebih rendah. Dan seterusnya, hingga terjadi apa yang disebut sebagai "perang harga".

Jadi walaupun harga minyak turun drastis, selama tidak ada yang berinisiatif menurunkan harga, jangan berharap akan terjadi penurunan harga besar-besaran.

Dalam kondisi ekonomi global yang tengah dilanda demam hebat, inisiatif penurunan harga yang akan mengundang perang harga adalah sangat berisiko tinggi. Pebisnis lebih baik mengambil sikap aman dengan menjaga harga pada level yang ada sekarang. Jika sampai terjadi perang harga dan harga anjlok sampai level yang tidak realistik, bisa dipastikan pebisnis akan bangkrut.

Lagipula, jarang terjadi harga barang yang sudah naik akan turun kembali. Melainkan karena perang harga itu tadi.

Kenaikan harga minyak pada 6 Juni lalu ibarat nasi menjadi bubur. Walaupun PM Badawi memutuskan mengembalikan harga minyak ke harga sebelum 6 Juni, harga barang-barang tidak akan turun.

Apakah komplikasi seperti ini sempat terpikir oleh PM Badawi ketika membuat keputusan menaikkan harga minyak? Saya tidak tahu. Tanyakan kepada rumput yang bergoyang.

0 comments: