Tuesday, November 18, 2008

Studi doktoral di Indonesia

Menempuh studi doktoral (S-3) di Indonesia adalah sebuah perjuangan memeras air mata, keringat, dan uang.

Sistem pendidikan doktoral di Indonesia tidak ubahnya sistem pendidikan program diploma (D-3): berorientasi uang, duit, dan fulus.

Mahasiswa doktoral harus membayar berbagai iuran, mulai dari iuran registrasi, iuran untuk setiap satuan kredit semester (SKS), ditambah lagi uang untuk membayar penguji tesis, dan uang makan-minum untuk para penguji dan hadirin selama sidang.

Berapa (puluh) juta uang yang harus dihabiskan seorang kandidat doktor di Indonesia? Hanya Tuhan yang tahu.

Tak heran jika di Indonesia jarang sekali yang mampu menyelesaikan studi doktoralnya sebelum umur 30 tahun. Karena para pemuda yang baru lulus S-1 tentu tidak punya banyak uang. Mereka harus bekerja dulu, mungkin selama 10 tahun, untuk mengumpulkan uang berpuluh-puluh juta.

Studi doktoral, khususnya untuk bidang ilmu alam, memerlukan energi dan konsentrasi luar biasa. Eksperimen yang terkadang dijalankan berhari-hari, jam kerja yang tak menentu, dan tingkat kegagalan eksperimen yang tinggi, mungkin sangat berat untuk kandidat yang sudah berumur atau berkeluarga. Saya kadang-kadang jatuh iba melihat para kandidat doktor di Indonesia yang sudah tua-tua, nyaris pensiun malah, harus berjuang di lab demi sebuah gelar.

Idealnya, seseorang sudah harus menyelesaikan studi doktoralnya sebelum usia 30 tahun. Ini hanya mungkin dicapai jika kandidat tersebut langsung melanjutkan studinya setelah lulus peringkat S-1.

Tapi dengan sistem pendidikan doktoral di Indonesia yang bertendensi memeras uang, saya tidak yakin kondisi yang ada sekarang dapat berubah.

Di Amerika dan Eropa, bisa saya katakan 99% mahasiswa peringkat doktoral menerima bayaran dari universitas atau lembaga lain. Bentuknya bisa berupa teaching assistantship atau beasiswa biasa. Mereka dibayar, bukan membayar seperti di Indonesia.

Tidak perlu jauh-jauh ke negara Barat, di Malaysia pun 90% mahasiswa peringkat doktoral menerima bayaran yang bervariasi antara RM 1500 (Rp 4.5 juta) sampai RM 2300 (Rp 7 juta) perbulan.

Tak heran, di negara-negara tersebut sangat biasa untuk melihat wajah-wajah muda dan enerjik berkutat di lab dan meraih gelar doktoralnya sebelum usia 30 tahun.

Membangun sistem pendidikan doktoral yang kondusif adalah perlu untuk menguatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sistem pendidikan doktoral yang berorientasi pemerasan uang seperti saat ini, wajib dihentikan.

0 comments: