Menuju Indonesia yang Lebih Baik Bagian Satu: Indonesia memerlukan seorang pemimpin
Ketika saya meninggalkan tanah air hampir 10 tahun silam untuk mencari penghidupan yang lebih baik di negeri orang, Indonesia adalah negara separuh hidup dan setengah mati.
Di tahun itu, bencana ekonomi Asia 1997 sedang menunjukkan simptom terparahnya. Sendi-sendi kehidupan politik dan ekonomi Indonesia kacau-balau diguncang krisis multidimensi. Pemerintahan nyaris tak berfungsi. Euforia kebebasan dari cengkeraman rezim Orde Baru berubah menjadi anarki tak terkendali.
Hampir satu dasawarsa berlalu. Saya pulang ke Indonesia untuk memuaskan keingintahuan saya tentang negeri yang tetap saya cintai hingga akhir hayat.
Apakah Indonesia saat ini berbeda dengan Indonesia yang saya tinggalkan 10 tahun lalu?
Apakah Indonesia punya semangat untuk bangkit setelah nyaris mati 10 tahun lalu?
Apakah Indonesia punya harapan untuk menjadi lebih baik dan terbaik di masa depan?
Jawabannya: YA.
Pandangan saya lebih optimis karena saya membandingkan dua keadaan yang sangat berbeda: sekarang dan 10 tahun lalu. Pandangan saya tentang Indonesia adalah bird's eye view, pandangan yang dilakukan oleh seorang Indonesia dari luar Indonesia. Bird's eye view mungkin kehilangan detil, tapi mampu melihat lebih luas.
Orang yang tidak pernah keluar dari Indonesia mungkin tidak akan bisa melihat perbedaan negeri ini sekarang dan 10 tahun lalu. Dan seperti yang saya duga, banyak pandangan pesimis yang saya dengar dari orang-orang Indonesia yang saya tanyai pendapatnya.
Pandangan saya tentang Indonesia tentu ada batasannya. Enam hari perjalanan di Jakarta dan Bandung tentu tidak bisa menggambarkan Indonesia secara utuh. Pandangan saya adalah pendapat personal, yang tidak dimaksudkan sebagai pendapat ilmiah.
Pandangan saya adalah pandangan seorang Indonesia tentang tanah airnya yang sudah lama ditinggalkan.
Dalam seri-seri tulisan berikutnya, saya akan menyampaikan catatan mengenai apa yang saya lihat selama enam hari di Indonesia. Ada hal-hal baik, yang membuat saya optimis bahwa Indonesia mampu berubah menjadi lebih baik. Ada pula hal-hal buruk, yang perlu diperbaiki sebagai syarat untuk berubah menuju kebaikan.
Sejujurnya, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi lebih baik dan terbaik, paling tidak di Asia.
Indonesia jauh lebih subur dibanding Malaysia, negeri tempat saya merantau. Secara kasat mata mudah dilihat warna tanah di Pulau Jawa yang gelap menandakan kesuburan, berkah dari banyaknya gunung berapi yang kita miliki. Tanah di Semenanjung Malaysia umumnya berwarna cerah yang kurang subur.
Tetapi mengapa negara sekecil Malaysia bisa menandingi Indonesia untuk menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia?
Mengapa negara sekecil Malaysia bisa bersaing dengan Indonesia untuk menjadi negara produsen karet terbesar di dunia?
Kenapa negara sesubur Indonesia sampai ada kasus orang mati kelaparan? Kenapa Malaysia dengan wilayah hanya sebesar Jawa dan tanahnya kurang subur tetapi rakyatnya tidak pernah kelaparan?
Kenapa Indonesia yang memiliki tambang emas terbesar di dunia tetapi rakyat sekitar pertambangan itu justru menjadi yang termiskin di dunia?
Jangan beri saya alasan bahwa penduduk Indonesia terlalu padat. Lihat Jepang. Alamnya tidak sekaya Indonesia. Penduduknya salah satu yang terpadat di dunia. Tetapi kenapa Jepang bisa maju dan kita tidak?
Secara logika, seharusnya Indonesia menjadi negara termaju di dunia.
Di mana salahnya?
Saya melihat Malaysia. Saya melihat Jerman. Saya melihat Amerika Serikat. Saya melihat negara-negara yang pernah jatuh, tetapi memutuskan untuk bangkit kembali.
Sama seperti Indonesia, Malaysia juga dihantam krisis ekonomi Asia 1997. Seharusnya Malaysia mengalami nasib sama seperti Indonesia. Tetapi kepemimpinan Dr. Mahathir Mohamad yang mengambil keputusan "nekat" menolak bantuan IMF menjadi kunci selamatnya Malaysia dari badai krisis 1997.
Jerman kehilangan Adolf Hitler bersama 10 juta tentara dan rakyatnya paska Perang Dunia II. Kota-kota Jerman yang indah seperti Berlin hancur dihantam bom. Jerman kalah total. Tetapi kepemimpinan Kanselir Konrad Adenauer dan Menteri Keuangan Ludwig Erhard menciptakan keajaiban ekonomi (wirtschaftwunder) di tahun 1950-an menjadikan Jerman sebagai kekuatan ekonomi besar sampai saat ini.
Pun negara digdaya seperti Amerika Serikat pernah jatuh. Tahun 1930-an menyaksikan ekonomi dunia dilanda krisis raksasa yang dimulai dari bursa saham Wall Street. Amerika bangkrut. Tetapi kepemimpinan luar biasa Presiden Franklin D. Roosevelt menyelamatkan negeri Paman Sam. Presiden yang lumpuh dan tergantung pada kursi roda ini adalah satu-satunya presiden Amerika yang terpilih lebih dari dua periode. Kebijakan ekonomi progresifnya, yang dikenal sebagai New Deal, kini kembali dilirik sebagai inspirasi untuk memadamkan kebakaran ekonomi saat ini.
Kesimpulannya: negara memerlukan PEMIMPIN untuk bangkit dari kehancuran.
Kita memerlukan seorang pemimpin dengan kualitas gabungan Mahathir Mohamad, Kanselir Adenauer, dan Presiden Roosevelt.
Negara kita memiliki modal yang lebih dari cukup untuk bangkit dan menjadi yang terbaik. Hanya satu yang kurang: seorang pemimpin.
Pemimpin seperti apa yang kita perlukan?
Mahathir Mohamad memberi inspirasi bahwa seorang pemimpin harus siap dibenci, berani mengambil resiko, dan ketika memutuskan sesuatu tidak pernah menarik balik keputusannya atau ragu-ragu. Ketika diserang dia harus ofensif, tidak boleh defensif, dan samasekali tidak boleh cengeng. Karena rakyat akan hilang semangatnya jika melihat pemimpinnya cengeng. Kebanggaan rakyat ada di bahu pemimpinnya. Jika pemimpinnya mudah menangis dan mengeluh, demikian pula dengan rakyatnya.
Kanselir Adenauer memberi inspirasi seorang pemimpin yang berprinsip teguh dan cerdas. Adolf Hitler mengagumi kepemimpinan Adenauer sebagai walikota Cologne, tetapi hal itu tidak membuat Adenauer tunduk kepada Hitler. Dia dipenjarakan berkali-kali karena berseberangan dengan rezim Nazi. Sebagai seorang lawyer, Adenauer dikenal cerdas yang terbukti dengan kebijakan ekonominya di tahun 1950-an.
Presiden Roosevelt pula memberi inspirasi seorang pemimpin yang mampu berbuat dan berpikir jauh di luar keterbatasan diri. Sebagai pengidap polio, Roosevelt memimpin pemulihan ekonomi Amerika dan Perang Dunia ke-II dari kursi rodanya. Roosevelt juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus mampu melahirkan kebijakan raksasa seperti New Deal, bukan cuma melahirkan album lagu dan kebijakan remeh-temeh. Karena masalah besar memerlukan solusi besar.
Kita memerlukan seorang pemimpin.








3 comments:
semoga Indonesia menemukan pemimpin yang lebih bagus dan lebih tegas daam mengambil keputusan demi masa depan indonesia yang lebih baik :-)
wahhh kalo gak salah mas bimo ini yg dulu aktif di milis SHT dan Parpai Islam milisnya anak2 HTI itu ya :)
lama gak muncul :D
'SBY – PRABOWO Kombinasi Capres – Cawapres Terbaik untuk Indonesia Saat Ini'
April 14, 2009
Pemilu 2009 telah dilaksanakan pada 9 April 2009 yang lalu (di dua kabupaten di NTT hari ini). Walaupun penghitungan hasil pemilu belum selesai dan baru akan diumumkan secara resmi oleh KPU kepada publik pada 9 Mei 2009 yang akan datang, hasil hitung cepat beberapa lembaga survei nampaknya sepakat menunjukkan bahwa Partai Demokrat akan memenangi pemilu 2009 dengan perolehan suara sekitar 20%. Menanggapi hasil hitung cepat tersebut, para elit partai politik mulai kasak-kusuk menjajagi pembentukan koalisi untuk pencalonan presiden dan wakil presiden.
Partai Golkar yang tersinggung oleh pernyataan Ahmad Mubarok bahwa Golkar hanya akan mendapat 2,5% suara pada pemilu 2009 telah menyatakan untuk mengusung calon presiden sendiri. Akan tetapi, hasil hitung cepat pemilu yang menempatkan Partai Golkar di posisi kedua atau ketiga membuat Partai Golkar bingung. Beberapa elit Golkar menyatakan lebih baik Golkar kawin lagi dengan Demokrat sementara banyak DPD Golkar menyatakan agar Golkar tetap mengusung Kalla sebagai calon presiden. Seperti halnya Partai Golkar yang bingung, nampaknya JK juga bingung dan sepertinya akan berlindung di belakang keputusan partai.
Yang lucu dari masalah koalisi dengan Partai Demokrat adalah PKS. Partai yang diperkirakan hanya akan mendapatkan 7% – 8% suara pada pemilu 2009 ini telah bertindak sebagai juru mudi koalisi. PKS sangat ingin Hidayat Nurwahid menjadi mempelai SBY sehingga mencoba mempengaruhi Partai Demokrat untuk tidak lagi menggandeng Golkar. Yang terakhir, bahkan, PKS mengancam akan keluar dari koalisi apabila Golkar diikutkan dalam koalisi Partai Demokrat. Anis Matta menyatakan bahwa PKS tidak akan berkoalisi berdasarkan pragmatisme yang merupakan ajang bagi-bagi kekuasaan. Padahal, apabila kita mau menilai lebih lanjut, siapa yang sebenarnya berpikir pragmatis apabila bukan PKS? PKS adalah partai Islam dan Partai Demokrat sebuah partai nasionalis. Agak lucu apabila partai nasionalis berkoalisi dengan partai Islam karena secara ideologi berbeda. Pada kasus ini justru diperlihatkan perilaku kekuasaan menghalalkan cara sehingga sebuah partai Islam ngotot untuk berkoalisi dengan sebuah partai nasionalis. Karena ngototnya, partai Islam itu sampai mengancam akan keluar dari koalisi apabila ada partai nasionalis lain yang diajak bergabung.
PASANGAN CAPRES – CAWAPRES TERBAIK UNTUK INDONESIA
Banyak yang mengatakan bahwa SBY – JK jilid II adalan pasangan capres – cawapres terbaik untuk Indonesia saat ini. Tidak, pasangan SBY – JK adalah pasangan terbaik untuk PD dan Golkar. Ada pula yang mencoba-coba menunjukkan bahwa SBY – Hidayat sebagai pasangan capres – cawapres terbaik. Mungkin terbaik untuk memenangkan pilres karena faktor SBY tetapi bukan yang terbaik untuk bangsa ini.
Pasangan capres – cawapres terbaik untuk Bangsa Indonesia saat ini adalah SBY – PRABOWO.
KEUNTUNGAN PASANGAN SBY PRABOWO BAGI BANGSA INDONESIA
Pasangan SBY – PRABOWO akan mampu mewujudkan Pemerintahan yang BERSIH dan TEGAS.
Kita semua tahu bahwa SBY merupakan figur yang menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia. Selama kepemimpinannya, SBY menunjukkan keseriusannya dalam memberantas korupsi. SBY pernah mengeluarkan pernyataan bahwa pemberantasan korupsi akan dimulai dari rumahnya sendiri. Hal ini dibuktikan ketika SBY tidak menghalangi KPK untuk memeriksan besannya, Aulia Pohan, yang diduga terkait kasus aliran dana BI ke DPR RI. Tanpa perlu banyak promosi, SBY telah menunjukkan bahwa dirinya BERSIH.
Sebaliknya, Prabowo dikenal sebagai sosok yang tegas. Berlawanan dengan SBY yang selama karir militernya didominasi sebagai perwira staf, Prabowo Subianto Djojohadikusumo (PSD) menjadi perwira komando selama karir militernya. PSD besar di Kopasus dan sempat menjadi Pangkostrad selama beberapa bulan. Sejak menjadi perwira PSD telah dikenal sebagai komandan yang tegas dan ahli strategi dan taktik tempur. Komandan pasukan tempur haruslah orang yang cakap dalam menyusun strategi dan taktik serta harus tegas mengambil keputusan karena keragu-raguan dalam mengambil keputusan akan berakibat pada seluruh pasukan. TEGAS merupakan ciri yang menonjol dari sosok Prabowo Subianto Djojohadikusumo.
Selain BERSIH, SBY merupakan administratur yang baik. Oleh karena itu, sinergi SBY – PRABOWO akan menghasilkan pemerintahan terbaik bagi Indonesia.
Pasangan SBY – PRABOWO akan membuat Indonesia semakin kuat di mata dunia
SBY sangat cakap dalam berpikir. PSD sangat cakap dalam bertindak. Keduanya sama-sama cerdas dan merupakan jenderal yang cemerlang pada masanya. Politik jugalah yang membuat kedua jenderal itu akhirnya tidak mampu mendapatkan pangkat jenderal dengan bintang empat. Baik SBY maupun PSD mengakhiri karir militernya dengan pangkat Letnan Jenderal.
Lepas dari krisis ekonomi 1998, di bawah kepemimpinan SBY Indonesia mampu menggerakkan perekonomiannya. Ekonomi Indonesia tumbuh positif 5% – 6% per tahun sehingga perlahan-lahan Indonesia mampu bangkit dari krisis. Sayangnya, keberhasilan dalam bidang ekonomi itu belum berhasil membuat Indonesia disegani oleh kawan maupun lawan. Keberhasilan di bidang ekonomi belum berhasil mengangkat sektor pertahanan RI sehingga Indonesia akhir-akhir ini selalu dilecehkan oleh negara tetangga. Malaysia selalu saja merongrong kedaulatan wilayah RI dan Singapura masih saja bergeming melindungi koruptor BLBI yang bersembunyi di sana tanpa Indonesia dapat berbuat apa-apa. Singapura bahkan menguasai wilayah udara Indonesia di sekitar Riau sampai Kalimantan Barat melalui perjanjian MTA I dan MTA II yang sebenarnya sudah habis masa berlakunya dan tidak diperpanjang. Lagi-lagi, Indonesia tidak dapat berbuat apa-apa.
Pasangan SBY – PRABOWO akan membuat citra RI semakin kuat di dunia. Saat ini, bukan kombinasi militer – sipil atau sipil – militer yang kita perlukan melainkan kombinasi terbaik putra bangsa Indonesia. SBY adalah purnawirawan jenderal yang mampu mendapatkan gelar doktor dari IPB. Di masa kemiliterannya, SBY ahli di bidang sosial politik. Sedangkan, PSD, setelah purna dari tugas kemiliterannya juga terjun ke dunia bisnis. Hal tersebut membuat PSD mampu memahami persoalan-persoalan ekonomi dan bisnis baik secara makro maupun mikro. Selain itu, PSD juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan sebagai ketua HKTI dan APPSI sehingga PSD mampu melihat persoalan teknis pertanian dan perdagangan tradisional di Indonesia, selain perdagangan internasional yang didapat dari grup perusahaannya. Pasangan SBY – PSD merupakan kombinasi yang komplit.
SBY akan memastikan perekonomian di Indonesia diselenggarakan secara BERSIH dan PSD akan dengan TEGAS memastikan bahwa hanya produk bernilai tambah yang dapat diekspor keluar dari Indonesia.
Pasangan SBY – PRABOWO merupakan pasangan yang pluralis
Baik SBY maupun PSD merupakan orang yang pluralis. SBY dan PSD bukan sektarian. SBY dan PSD sama-sama antidiskriminasi dan menganggap semua komponen bangsa ini harus bersama-sama bergerak dan bekerja untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. SBY dan PSD sama-sama berangkat dari partai nasionalis yang komitmennya pada pluralisme tidak perlu diragukan lagi. Selain itu, komitmen SBY dan PSD pada NKRI juga tidak perlu diragukan lagi.
Pasangan SBY – PRABOWO yang terbaik buat kaum muda
Dibandingkan dengan pasangan lain, kombinasi SBY – Prabowo merupakan pasangan yang terbaik untuk kaum muda. SBY dan PSD masih tergolong muda. Keduanya masih sehat jasmani dan rohani dan masih produktif.
Kaum muda di Indonesia meminta agar kaum muda diberi kepercayaan untuk mengambil alih tampuk pimpinan nasional. Tentu saja, pengambilalihan kepemimpinan itu harus dilakukan melalui jalur konstitusional. Pasangan SBY – Prabowo merupakan representasi kaum muda yang akan mampu mengambilalih kepemimpinan secara konstitusional dari kaum tua. Kita tahu bahwa Golkar merupakan partai konservatif yang selalu mempertahankan status quo dan kurang memberikan kesempatan penuh kepada kader-kader mudanya di partai. Kita dapat melihat bagaimana Yudi Krisnandi kurang diberi peluang oleh partai Golkar. Demikian pula Fadel Muhammad. Sementara, PDI-P cenderung hanya memperhatikan Dinasti Soekarno dan hanya memberi peluang terbaik kepada keturunan Soekarno.
Partai Demokrat dan Partai GERINDRA merupakan partai baru yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada kaum muda untuk berkarya. Baik Partai Demokrat maupun Partai GERINDRA memberikan peluang yang sama kepada kaum muda untuk menjadi calegnya. Oleh karena itu, hanya pasangan SBY – Prabowo yang dapat memberikan yang terbaik bagi kepentingan generasi muda.
Pasangan SBY – Prabowo akan mewujudkan sistem presidensiil yang kuat
Baik Partai Demokrat maupun Partai GERINDRA sama-sama memandang bahwa telah terjadi pergeseran paradigma dalam sistem ketatanegaraan kita. Sistem presidensiil yang diamanatkan oleh UUD 1945 telah digerusi selama reformasi. Akibatnya, parlemen cenderung rewel dan menghambat jalannya pemerintahan dan pembangunan. Padahal, apabila kita bercermin pada masa Orde Baru, Presiden yang waktu itu dipilih oleh MPR merupakan Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan yang kuat. Setelah Presiden dipilih langsung oleh rakyat, seharusnya Presiden menjadi semakin kuat, bukan malah sebaliknya, menjadi semakin lemah di mata DPR.
SBY – Prabowo akan mengembalikan amanat UUD 1945 bahwa Indonesia menganut Sistem Presidensiil, bukan parlementer. Kesamaan pandangan PD dan GERINDRA akan memperkuat komitmen tersebut.
Pasangan SBY – PSD akan menyederhanakan sistem perpolitikan nasional
Baik PD maupun GERINDRA setuju bahwa sistem perpolitikan nasional saat ini terlalu rumit dan penyelenggaraannya memakan sumberdaya yang sangat besar. Oleh karena itu, sistem perpolitikan nasional harus disederhanakan. SBY – Prabowo akan mewujudkan harapan masyarakat mengenai permasalahan tersebut. Keresahan, kerepotan dan kebingungan memilih dalam pemilu sudah disadari oleh SBY – Prabowo. Oleh karena itu, di bawah kepemimpinan mereka yang BERSIH dan TEGAS, harapan rakyat agar sistem perpolitikan disederhanakan akan dapat diwujudkan.
TAK PERLU DUA PUTARAN
Saya berani berpendapat bahwa pasangan SBY – PSD yang merupakan pasangan terbaik untuk Bangsa Indonesia saat ini tidak perlu bertarung dalam dua putaran menghadapi calon presiden yang lain. Hanya dengan satu putaran saja Indonesia akan mendapatkan pasangan pemimpin terbaik.
Post a Comment