Saya mengajar dua mata kuliah: Kimia Dasar dan Spektroskopi Kimia. Hari pertama kuliah tidak saya isi dengan materi dari Bab I buku teks apapun, tetapi kuliah tentang bagaimana berpikir seperti ilmuwan ruang angkasa (How to Think Like A Rocket Scientist).
Seperti yang diduga, mahasiswa saya terbelah menjadi dua kubu: yang menyambut baik dan yang menganggap materi tersebut tidak penting. Tidak masalah bagi saya. Bukankah selera tidak bisa dipaksakan? Dan bukankah perbedaan pendapat itu sehat?
Dalam pandangan saya, kuliah How to Think Like A Rocket Scientist adalah vital untuk siapapun yang mengambil kuliah sains. Karena saintis adalah orang yang pemikirannya penuh imajinasi, terbebaskan, penuh rasa ingin tahu, dan kadang-kadang humoris. Jika saintis hanya merujuk kepada buku teks, sampai kapanpun manusia tidak akan pernah mencapai bulan. Karena ide untuk terbang ke bulan pada mulanya adalah ide abstrak, semata-mata berdasar khayalan Presiden John F. Kennedy. Tugas sains adalah mengubah mimpi menjadi kenyataan.
Mengubah mimpi menjadi kenyataan. Seorang penghafal buku teks tidak akan mampu mewujudkan apapun selain menuliskan kembali apa yang dia ketahui. Jika sains hanya seperti itu, sains tidak ada gunanya sama sekali.
Sebagai dosen sains, tugas saya adalah membebaskan pemikiran anak didik saya. Menyadarkan mereka bahwa inovasi tidak akan muncul tanpa mimpi dan imajinasi. Di lain pihak, mimpi semata-mata tanpa ilmu juga tidak akan memunculkan inovasi. Diperlukan keseimbangan antara kebebasan berpikir dan pemahaman prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.
Mungkin saya terlalu ambisius. Saya bisa saja mengambil jalan pintas, semata-mata menjadi seorang penyampai ilmu. Mengulang-ulang materi yang ada dalam buku teks seperti kaset rusak. Menayangkan slide materi kuliah yang sama dari tahun ke tahun sampai usang dan berdebu. Ini mudah. Dan pihak universitas pun saya yakin tak peduli.
Tapi saya sengaja menempuh jalan yang lebih menantang. Membaca lebih banyak buku selain buku teks, termasuk koran dan majalah. Merevisi materi kuliah dari waktu ke waktu. Aktif mengadakan penelitian agar selalu ada bahan segar yang bisa disampaikan ke mahasiwa. Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mendebat saya. Hanya inilah cara untuk membuat profesi dosen tetap relevan di mata mahasiswa dan perkembangan zaman.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)








0 comments:
Post a Comment