Sunday, June 14, 2009

Pidato bukan sekedar omdo

Professor Barack Hussein Obama.

Tidak salah. Barack Obama, Presiden Amerika Serikat ke-44 pernah menjadi dosen (professor) hukum konstitusi di University of Chicago Law School. Dia dikenal sebagai dosen yang gemar memprovokasi mahasiswa dengan ide-ide baru dan segar. Materi kuliahnya menarik. Soal-soal ujiannya menantang.

Sebagai seorang profesor, Barack Obama terlatih untuk berdebat secara sehat. Bakat oratornya terasah baik selama di Chicago maupun di Harvard tempat ia memperoleh gelar Juris Doctor (J.D.). Tak heran jika ucapan-ucapannya bernas, terstruktur baik, dan mengundang kekaguman publik.

Tugas seorang presiden bukan cuma menyusun anggaran belanja negara dan rencana pembangunan. Tugas seorang presiden adalah membangkitkan semangat rakyatnya ketika sedang dilanda krisis, meniupkan optimisme ketika keyakinan rakyat jatuh, dan mengajak partisipasi rakyat ketika negara memerlukan upaya padu untuk bangkit.

Pidato yang baik bukan cuma sekedar omongan di mulut. Sejarah dunia diwarnai dengan orator-orator ulung yang punya daya pesona dan gerak massa luar biasa. Adolf Hitler menggerakkan pembantaian Yahudi di Eropa melalui pidato-pidatonya yang membakar. Di masa Perang Dunia II, ketika semangat mudah goyah diamuk badai peperangan besar, orator ulung seperti Winston Churchill dan Franklin Roosevelt muncul menyuntik optimisme dan semangat demi mencapai kemenangan pasukan Sekutu.

Pidato bukan sekedar omdo (omong doang). Pidato adalah pembakar semangat. Pidato adalah penyentak jiwa ketika otak dibuat ragu-ragu oleh pertimbangan tetek-bengek. Tak heran jika orang sepiawai Obama pun masih memerlukan tim tangguh untuk menyusun pidato beliau. Karena semaju apapun perjalanan waktu, manusia tetaplah manusia yang punya hati, yang memerlukan suntikan motivasi dan kobaran semangat.

Indonesia, negeri yang masih tertatih-tatih berjalan akibat dilanda tempias krisis besar 10 tahun lalu, memerlukan upaya terpadu seluruh rakyat untuk bangkit. Upaya raksasa memerlukan suntikan semangat raksasa. Dan sayangnya, pemimpin kita tidak punya kemampuan menyuntikkan semangat.

Bersama Kita Bisa? Siapa sih yang sampai terbakar semangatnya gara-gara slogan tersebut? Bagaimana mampu menyalakan api semangat rakyat jika si pemilik slogan sendiri bersikap ragu-ragu dan tak punya kemampuan berpidato secara bernas?

0 comments: