Thursday, June 11, 2009

Siti Hajar yang dihajar

Belum tuntas kasus penganiayaan Nirmala Bonat, muncul kasus Siti Hajar yang tiga tahun tanpa putus babak-belur dihajar majikannya di Malaysia.

Saya tidak tahu berapa persen majikan di Malaysia yang gemar main hajar dan berapa persen yang baik hati, tapi apa yang dialami Siti Hajar memang di luar batas perikemanusiaan.

Mirip seperti yang menimpa Nirmala Bonat, majikan Siti Hajar juga seorang keturunan Cina.

Dari penglihatan pribadi sehari-hari, majikan berketurunan Cina di Malaysia biasanya punya potensi untuk bermasalah dengan pembantunya yang berasal dari Indonesia.

Masalah pertama adalah bahasa. Warga keturunan Cina di Malaysia masih kental berkomunikasi dengan bahasa Cina, baik di rumah, kantor, mapun di mana saja. Banyak saya temui warga Malaysia keturunan Cina yang kemampuannya berbahasa Melayu jauh lebih buruk dari saya yang justru orang Jawa dan cuma pendatang sementara. Di lain pihak, pembantu kita hanya fasih berbahasa Indonesia/Melayu dan tidak mengerti bahasa Cina atau Inggris.

Jika dua pihak berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda, tentu banyak masalah yang muncul. Majikan maunya A, pembantu memahaminya B. Akhirnya majikan memaki-maki si pembantu, dianggap goblok, dan lain sebagainya.

Masalah kedua adalah budaya dan agama. Budaya Cina banyak memiliki perbedaan dengan budaya serta agama yang dibawa oleh para pembantu Indonesia. Dalam kasus Siti Hajar misalnya, dia yang Muslim dipaksa memakan daging babi. Tentu saja Siti Hajar menolak. Si majikan, yang menganggap si pembantu sengaja neko-neko, lantas marah.

Masalah ketiga adalah soal uang. Peraturan di Malaysia menggariskan bahwa untuk mendatangkan seorang pembantu, majikan harus membayar mulai RM 3000 (Rp 9 juta) sampai RM 7000 (Rp 21 juta) sebagai fee resmi kepada agen penyalur. Jumlah ini masih harus ditambah gaji bulanan sebesar RM 500 (Rp 1,5 juta) di luar jatah makan. Nah, majikan yang merasa sudah membayar mahal tentu mengharapkan layanan sempurna dari pembantunya. Ada yang kurang sedikit, seterika melayang.

Kalau di Indonesia, pembantu tidak cocok tinggal tukar yang baru. Tak perlu main hajar sana-sini. Itulah sebabnya di Indonesia jarang terdengar kasus pembantu disiksa. Lha wong stok pembantu berlimpah ruah kok. Di Malaysia situasinya berbeda. Memulangkan pembantu setelah bekerja 2-6 bulan, otomatis hilanglah uang yang sudah dibayar. Sudah hilang pembantu, hilang pula uang beribu-ribu ringgit. Rugi dua kali. Maka tak ada pilihan lain selain memaksa pembantu untuk bekerja keras memuaskan keinginan majikan.

Untuk majikan berketurunan Melayu, potensi masalah biasanya lebih kecil karena mereka memiliki persamaan bahasa, budaya, dan agama dengan pembantu-pembantunya dari Indonesia. Beberapa orang yang saya kenal malah mengizinkan pembantunya makan bersama dengan keluarga di meja makan, sesuatu yang justru jarang dijumpai di Indonesia.

Tidak betul jika kita menggeneralisir semua majikan di Malaysia adalah tukang hajar. Memang ada yang bandit, tetapi ada yang baik. Mungkin sudah saatnya pihak majikan dan calon pembantunya wajib menjalani psikotes serta tes kecocokan. Jika dari semua segi (budaya, agama, bahasa) ada jurang perbedaan terlalu lebar antara majikan dan pembantu, lebih baik dicarikan majikan lain.

1 comments:

emilliano.itb said...

Dear Pak Bimo

Saya setuju sekali dengan postingan anda mengenai pembantu ini. Terlebih saya pernah beberapa kali memergoki pembantu Indonesia yang diteriaki, dimaki2 dan dipukuli pakai kayu dengan sangat keras dan dengan kata2 kasar : " Mati kamu..!!" dan lepas tu kadang2 dia memaki dalam bahasa china di appartment saya (Vista Impiana Condo). Tetapi ketika saya dan isteri ingin menyelidiki baru membuka pintu rumah kami dia tiba2 diam. Kejadian ini kerap terjadi dan berkali2 siang dan malam.

Kemudian ada satu kes lagi, informasi dari kakak melayu di kedai bawah vista impiana condo, dia sempat cerita kalau di tingkat 3 saat dia mau menghantar makanan sering terdengar suara gaduh suara perempuan seperti tersiksa dan merintih2. Dia sempat masuk rumah tersebut, tapi tak tampak perempuan tersebut, tapi yang tampak 4 orang laki2 kulit hitam negro AFRIKA. dia rasa mungkin didalam kamar. Dan saat diluar dia pernah melihat laki2 kulit hitam tersebut membawa seorang perempuan yang diduga perempuan indonesia yang hampir2 tak kuat berjalan dipapah oleh seorang negro dan 3 orang disekelilingnya. Diduga keras dia mau dibawa ke hotel untuk melayani laki2 hidung belang dan meraup keuntungan dari mereka. Tapi si kakak tak berani report polis sebab dia bukan penghuni Vista Impiana. Saya dan isteri terpana mendengarnya.