Malaysia dan Indonesia sebenarnya memiliki hubungan erat yang sudah disulam sejak beratus tahun silam. Sebelum kedatangan kaum pengelana Eropa yang memecah-belah wilayah Nusantara, Sumatera dan Semenanjung Malaya ibarat tak berjarak. Orang hilir-mudik berniaga dan mengunjungi kerabat tanpa peduli dengan paspor dan petugas imigrasi.Penguasa pertama Semenanjung Melayu, Parameswara, adalah keturunan raja Sriwijaya. Permaisurinya berasal dari Pasai (Aceh). Parameswara mendirikan kerajaan tertua di Malaysia (Kerajaan Melaka) yang mengambil-alih peran Sriwijaya sebagai penguasa tanah Melayu. Tak heran jika kebanyakan raja dan sultan di Malaysia memiliki pertalian darah dengan Indonesia melalui silsilah keluarga. Bahkan, Perdana Menteri Malaysia saat ini, Dato' Seri Najib Tun Razak memiliki darah Bugis dari Raja Gowa XX.
Lantas, kenapa dua bangsa yang dulu begitu akrab bagai tak terpisahkan kini malah beberapa kali nyaris di ambang perang?
Memang lazim jika negara bertetangga meributkan hal yang kecil-kecil. Jangankan dua negara, dengan tetangga sebelah rumah pun pasti pernah bermasalah. Bisa jadi daun pohon jambu tetangga yang mengotori halaman kita, anak tetangga yang genjrengan gitar sampai tengah malam, bau terasi dari rumah sebelah, dan banyak lagi. Mungkin kita lebih kerap bermasalah dengan tetangga sebelah dibanding dengan tetangga yang 5 kilometer jauhnya.
Tetapi apakah setiap masalah harus menjadi alasan untuk menabuh genderang perang?
Memahami Malaysia
Jika dulu penduduk Sumatera dan Semenanjung Malaya jarang bertengkar, mungkin karena mereka sering berkunjung satu sama lain sehingga dapat saling memahami.
Memahami Malaysia. Bagi saya inilah kunci yang harus dipegang baik oleh rakyat biasa maupun barisan diplomat Indonesia dalam menyelesaikan setiap masalah dengan negara tetangga. Memahami negara jiran kita itu sebenarnya tidak susah. Tidak perlu sampai membuka Pusat Studi Malaysia di universitas kita.
Yang saya tulis di bawah ini adalah hasil pengamatan terhadap karakter rakyat Malaysia yang saya lakukan selama 10 tahun. Saya kira 10 tahun sudah cukup untuk menangkap esensi karakter sebuah bangsa, walaupun saya akui bukan pemahaman yang komplit dan menyeluruh.
1. Rakyat lebih suka menyerahkan urusannya kepada pemerintah.
Sejak kemerdekaannya pada tahun 1957, Malaysia dipegang oleh pemerintahan yang kuat. Ketaatan kepada Raja merupakan bagian dari Rukun Negara yang juga berimplikasi kepada ketaatan kepada pemerintah.
Maka tidak heran jika kebanyakan rakyat Malaysia lebih memilih bersikap diam dalam isu-isu kontroversial seperti Sipadan-Ligitan, Ambalat, maupun dugaan penganiayaan Manohara. Mereka bukan tidak tahu, tetapi mereka memilih menyerahkan urusan-urusan itu kepada pemerintah. Rakyat Malaysia memang agak apolitis, atau mungkin juga pragmatis; bagi mereka yang penting bisa bekerja dengan tenang menghidupi keluarga. Biarlah pemerintah menyelesaikan urusan yang memang tidak bisa diselesaikan oleh rakyat biasa.
2. Malaysia memiliki 3 jenis bangsa yang berbeda karakternya.
Malaysia memiliki 3 bangsa berbeda: Melayu, Cina, dan India. Dalam tulisan sebelumnya saya menjelaskan bahwa kebanyakan kasus penganiayaan pekerja domestik diakibatkan miskomunikasi antara majikan dan pekerja. Jika komunikasi berjalan lancar, misalnya antara majikan berbangsa Melayu dan pekerja Indonesianya, kecil kemungkinan terjadinya penyiksaan. Apalagi antara orang Melayu dan Indonesia diikat oleh persamaan agama dan budaya.
Ketimbang mencap Malaysia sebagai penyiksa babu, mungkin lebih baik jika Pemerintah Indonesia mengajukan syarat agar pekerja domestik Indonesia hanya diizinkan untuk bekerja di rumah masyarakat Melayu untuk menghindari konflik akibat kesalahpahaman budaya dan agama seperti diusulkan oleh persatuan pekerja Indonesia di Malaysia, Bocahe Dewe. Presiden Agen Pembantu Asing Malaysia, Datuk Raja Zulkepley Dahalan bahkan mengusulkan agar majikan yang bukan Muslim supaya mencari pembantu dari negara lain seperti Cina misalnya.
3. Konsep "maruah" yang dijunjung tinggi.
"Maruah" (harga diri) adalah bagian penting dalam tradisi masyarakat Melayu. Ibaratnya kalau bertarung, kalah tidak jadi masalah asalkan harga diri tetap terjaga.
Dalam konflik-konflik seperti masalah Ambalat, rakyat Indonesia kadang-kadang terpancing dengan sikap "kepala batu" Malaysia. Percayalah, bukannya Malaysia ingin berkepala batu dengan Indonesia. Tidak ada satu negara pun yang ingin mencari-cari masalah dengan Indonesia yang berpenduduk 200 juta. Sikap "kepala batu" Malaysia hanyalah bagian dari upaya mempertahankan harga diri. Bukannya betul-betul ingin ribut dengan Indonesia. Terbukti ketika delegasi parlemen Indonesia datang ke Kuala Lumpur, nada yang ditunjukkan petinggi Malaysia justru sangat bersahabat.
Kunci yang paling penting dalam permainan "maruah" ini adalah: jangan terpancing. Semuanya adalah bagian dari perang urat saraf, dan perang jenis ini ibarat bermain kartu; jangan sampai terpancing membuka semua kartu. Peran diplomat dan intelijen menjadi penting untuk menjaga supaya perang urat saraf bisa diselesaikan tanpa berubah menjadi perang senjata.
4. Malingsia?
Sejak kisruh kasus lagu Rasa Sayange dan klaim atas batik, muncul cap Malaysia adalah bangsa maling (Malingsia). Saya bukan orang yang setuju dengan curi-mencuri produk budaya, tetapi harus diingat bahwa persamaan budaya antara Malaysia dan Indonesia terlalu dekat, sangat dekat sehingga muncul tumpang-tindih klaim kepemilikan.
Klaim kepemilikan atas produk budaya adalah barang baru. Dulu tidak pernah ada klaim-mengklaim seperti sekarang. Semua penduduk Nusantara (termasuk Indonesia dan Malaysia) menyanyikan lagu rakyat yang hampir sama, memainkan alat musik yang hampir sama, memakan makanan yang hampir sama. Ketika seseorang mengklaim suatu produk budaya yang lahir sebelum munculnya batas negara, maka klaim itu langsung memicu protes.
Klaim atas produk budaya bukan cuma memusingkan Indonesia. India pun pernah dibuat pusing ketika Amerika mencoba mempatenkan yoga yang diyakini lahir di India beribu tahun sebelum orang mengenal istilah "patent".
Sekarang zaman sudah berubah. Produk budaya yang dulu diyakini menjadi domain publik, kini menjadi wilayah kepemilikan. Ini bukan soal maling-malingan, tapi soal siapa cepat dia dapat. "Patent" sedang menjadi trend di Malaysia dan juga seluruh dunia. Jika Indonesia tidak ingin ketinggalan, sudah saatnya Indonesia bergiat mendata dan mengklaim kepemilikan atas produk-produk budayanya yang sudah lama terbengkalai.
Ekonomi dunia sedang lesu. Barang apapun yang bisa mendatangkan keuntungan ekonomi pasti akan diklaim kepemilikannya. Ini adalah trend global, Indonesia tak bisa menghindar. Lebih baik Indonesia ikut serta dalam trend "maling-malingan" ini ketimbang menangis meraung-raung tanpa daya melihat produk budayanya diklaim negara lain.
5. Rakyat Malaysia sangat memperhatikan Indonesia.
Di mata rakyat Malaysia, Indonesia adalah negeri yang menarik perhatian, baik dari sisi positif maupun negatif. Di satu sisi, banyak rakyat Malaysia yang tidak pernah berkunjung ke Indonesia dan hanya mendengar desas-desus bahwa Indonesia adalah negeri para pencoleng. Atau mereka yang pernah punya pengalaman buruk menjadi korban pencopet Indonesia. Padahal, bukankah lebih banyak copet yang asli lokal?
Tetapi tidak kalah banyak rakyat Malaysia yang mencintai Indonesia. Bagi mereka, Indonesia adalah negara yang budayanya kaya dan alamnya indah. Contohnya Bandung. Rute penerbangan KL-Bandung termasuk rute panas yang banyak diburu pelancong Malaysia yang hobi makan dan belanja. Sering juga saya dengar komentar orang Malaysia yang memuji kemolekan mojang Priangan. Produk budaya Jawa dan Minang laris diburu untuk aksesoris pesta pernikahan. Saya bahkan pernah bertemu seorang pengusaha Malaysia yang lebih kerap menjelajahi Indonesia ketimbang saya!
Jika ada dua orang yang membenci dan mencintai kita, mengapa kedua-duanya mau diperangi? Ketimbang memanas-manasi hubungan kedua negara, alangkah baiknya jika rakyat dan pemerintah Indonesia menggarap segmen masyarakat Malaysia yang mencintai Indonesia. Ajak mereka untuk lebih sering mengunjungi Indonesia. Ajak mereka untuk melihat keelokan alam dan budaya Indonesia. Buatlah mereka terkagum-kagum dengan Indonesia. Buatlah mereka memahami Indonesia.








0 comments:
Post a Comment