Jika bank syariah di Indonesia identik dengan pegawai yang berjilbab, tidak demikian halnya dengan Malaysia.Kok begitu? Memang agak aneh, tapi nyata.
Perkenalan saya dengan bank syariah diawali di salah satu kantor cabang HSBC Amanah di Malaysia. Sebagaimana sidang pembaca mungkin sudah maklum, HSBC yang merupakan grup perbankan terbesar di dunia menurut Forbes, rupanya kepincut dengan potensi perbankan syariah yang sedemikian dahsyat. Maka muncullah divisi syariah HSBC Amanah pada tahun 1998 yang kemudian terus menggurita sampai ke Timur Tengah, Asia, Eropa, dan Amerika Utara.
Masuk ke kantor yang didominasi ornamen merah, tidak ada seorangpun yang mengenakan jilbab. Ah, jangan-jangan saya ini di Thailand dan bukan di negerinya Siti Nurhaliza, batin saya.
"Good afternoon, Sir. May I help you?" sapa seorang berkulit kuning langsat dengan ramah.
Wah, lelaki ini tidak berjenggot. Seorang berketurunan Cina malah. Seratus persen yakin dia bukan Muslim.
Saya jelaskan bahwa saya sedang mencari produk asuransi. Dengan senyum tak lekang dari bibirnya, lelaki Cina non-Muslim itu dengan sangat fasih menjelaskan produk takaful dari HSBC Amanah. Lengkap dengan jargon-jargon syariah seperti tabarru, wakalah, dan mudharabah.
Geli juga melihat dia mengucapkan istilah-istilah itu dengan agak susah payah. Tetapi saya angkat topi atas usaha keras dia belajar mengucapkan istilah-istilah Arab yang mungkin seumur hidupnya belum pernah dia ucapkan. Salute!
Selesai dikuliahi soal takaful di HSBC Amanah, saya pun pergi ke bangunan yang jaraknya sepelemparan batu. Sebuah institusi keuangan terbesar di Kuwait yang membuka cabang di Malaysia. Masuk ke ruangan yang didominasi warna hijau itu (wah, ada harapan melihat teller berjilbab), saya langsung dilayani oleh seorang staf pria berjenggot yang bernama Mr. Rajkumar.
Semua staf wanita tidak ada yang berjilbab, dan saya duduk di depan seorang lelaki berketurunan India yang saya yakin dia bukan Muslim.
Saya membatin: betapa kuatnya posisi perbankan syariah di Malaysia, sehingga semua orang, tak peduli Muslim atau bukan, ingin bekerja dengan bank syariah. Pikiran saya melayang ke ratusan tahun lalu di era kegemilangan Islam Cordova, ketika para pemuda Kristen Spanyol berebut-rebut belajar bahasa Arab yang pada masa itu gengsinya setara dengan bahasa Inggris saat ini.
Di Malaysia saya melihat Islam yang rahmatan lil alamin, paling tidak dalam sistem bank syariahnya. Pegawai bank Muslim dan non-Muslim, berketurunan Melayu, India, atau Cina, semuanya yakin dengan keunggulan produk syariah yang mereka tawarkan. Jika tidak yakin dengan keunggulan sistem syariah, tidak mungkin mereka memilih bekerja di institusi perbankan Islam.
Di Malaysia, bank syariah sanggup menembus sekat-sekat agama dan ras. Tidak ada konsep "bank syariah hanya untuk Muslim". Bank syariah sanggup bersaing ketat dengan bank konvensional dengan menawarkan produk-produk yang tak kalah menariknya dengan yang ditawarkan oleh bank non-syariah.
Bagi non-Muslim, jika bank syariah sanggup menawarkan berbagai kelebihan dibanding bank konvensional, kenapa tidak menjadi nasabah bank syariah? Anda jangan terkejut, ketika HSBC mulai membuka layanan syariahnya, lebih dari separuh nasabahnya justru dari kalangan non-Muslim (ulasannya baca di sini).
Untuk nasabah bank yang memikirkan soal halal-haramnya riba, bank syariah menjadi pilihan yang mau tak mau wajib diambil. Tetapi bagi nasabah bank yang tidak menganut kepercayaan ketat mengenai bunga bank, mereka berpikiran praktis: kalau menabung harus mendapat keuntungan tinggi, kalau meminjam uang tidak dibebani dengan bunga yang selangit, dan jaringan ATM-nya ada dimana-mana.
Jika bank syariah sanggup memenuhi tuntutan pelanggan seperti itu (dan di Malaysia kenyataannya bisa), bank konvensional bersiap-siaplah untuk "berperang" dengan bank syariah!
Saya rasa (bisa jadi perasaan saya salah), bank syariah di Indonesia masih berorientasi hanya kepada nasabah Muslim. Mungkin sudah saatnya bank syariah di Indonesia lebih membuka diri kepada nasabah non-Muslim. Jargon-jargon berbahasa Arab yang susah diucapkan oleh lidah non-Muslim, seperti mudharabah, nisbah, musyarakah, murabahah, mungkin bisa dicari padannya dalam bahasa Indonesia. Bukan hanya yang non-Muslim, beberapa kalangan Muslim pun mungkin agak susah mengucapkan istilah-istilah tersebut.
Kalangan perbankan syariah di Indonesia harus belajar banyak dari Malaysia, yang sudah lama dinobatkan sebagai kiblatnya perbankan syariah di dunia. Bayangkan, dengan jumlah penduduk hanya 25 juta jiwa, itupun hanya 60%-nya Muslim, aset perbankan syariah di Malaysia mencapai 20% dari total aset perbankan secara keseluruhan. Di Indonesia, dengan 250 juta jiwa penduduknya dan lebih 80%-nya Muslim, mosok tidak sampai 3% dari jumlah aset keseluruhan?
Kembali ke Malaysia dan kejutan belum berakhir. Rupanya banyak yang tahu saya sedang mencari produk perbankan syariah. Satu lagi bank melemparkan tawaran kepada saya. Nama bank itu: Hong Leong Islamic Bank. Staf yang menghubungi saya bernama Jenny, berketurunan Cina.
Saya membatin: jangan-jangan sudah tidak ada lagi bank konvensional di Malaysia. Semua kolaps dihajar bank syariah!








0 comments:
Post a Comment